Wakil Wali Kota Sebut Kasus Narkoba Tertinggi Ada di Wilayah Tatanga dan Kayumalue Ngapa

Avatar
Foto bersama usai pembukaan Diklat Peningkatan Karakter Kebangsaan bagi Petugas Rehabilitasi Korban Penyalahgunaan Narkoba, Rabu kemarin. (FOTO: HUMAS PEMKOT PALU)

Landasan.id – PALU – Wakil Wali Kota Palu, dr. Reny A. Lamadjido, membuka kegiatan Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) Peningkatan Karakter Kebangsaan bagi Petugas Rehabilitasi Korban Penyalahgunaan Narkoba, Rabu kemarin.

Kegiatan yang diselenggarakan di Aula Kantor Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Kota Palu itu berlangsung selama tiga hari, sejak tanggal 12 sampai 14 Oktober 2022 besok.

Wakil Wali Kota, Reny A Lamadjido, menyatakan, pihaknya sangat konsen terhadap narkoba sehingga angka prevalensi penggunanya dapat menurun.

Dirinya sebagai Wakil Wali Kota, secara khusus memiliki salah satu tugas yaitu menjadi koordinator penanganan narkoba.

“Saya sangat prihatin sekali karena Kota Palu ini sudah masuk yang terbesar di Sulawesi Tengah. Dan Provinsi Sulawesi Tengah itu menduduki urutan keempat secara nasional. Sebenarnya dari lubuk hati saya paling dalam sakit sekali sebenarnya,” ungkapnya.

Ia juga mengungkapkan tantangan yang dihadapi begitu besar, sebagaimana yang pernah dialaminya saat menjadi Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Tengah.

“Saya juga malu sebenarnya kalau narkoba itu tidak bisa kita turunkan angka prevalensinya. Jadi Insya Allah, dengan pelatihan ini, perlahan kita bisa memberikan kesadaran kepada masyarakat bahwa narkoba itu tidak bagus,” lanjutnya.

Ia meminta agar dicarikan strategi yang terbaik, salah satunya dengan cara-cara tertentu yang berbeda di masing-masing kelurahan.

Ia menyebut, kasus narkoba tertinggi di Kota Palu berada di wilayah Kecamatan Tatanga dan wilayah Kecamatan Tawaeli, tepatnya di Kelurahan Kayumalue Ngapa.

“Mereka sudah bersatu, sehingga itu menyulitkan kita. Jadi ada metode-metode terbaik buat mereka. Kita tidak boleh menjadi musuh mereka. Tetapi dengan catatan jangan teman-teman nanti mengikuti mereka. Itu yang berbahaya. Kita boleh jadi teman tapi tidak boleh terjerumus dengan mereka,” tegasnya.

Reny juga mengingatkan agar para relawan menguatkan iman saat turun lapangan.

“Jangan no di mulut, namun juga di hati. Jangan mau coba. Tantangan kita berat sekali. Karena kita menurunkan prevalensi tidak semudah membalikkan telapak tangan,” tekannya.

Namun demikian, Ia percaya dengan dilaksanakannya Diklat, angka prevalensi tersebut akan turun.

Sumber : Media.Alkhairaat.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *