Korban Jiwa Bertambah di Tambang Buranga, Tragedi Berulang Tanpa Henti

Ilustrasi tambang Buranga. /Foto: Ilustrasi

Parigi Moutong, LANDASAN.ID – Aktivitas tambang emas di Desa Buranga, Kecamatan Ampibabo, Kabupaten Parigi Moutong, kembali menelan korban jiwa. Insiden terbaru ini membuka kembali luka lama tragedi longsor 2021 yang menewaskan tujuh penambang—sebuah peristiwa yang seharusnya menjadi alarm keras, namun dinilai belum mampu menghentikan praktik pertambangan berisiko di wilayah tersebut.

Rabu malam (12/2/2026) sekitar pukul 22.15 WITA, seorang penambang bernama Aco (31) tertimbun longsor saat mengambil material di dinding tebing lubang tambang. Saat kejadian, korban bekerja bersama seorang rekannya di area galian yang dikenal rawan runtuh.

Menurut keterangan di lokasi, longsoran terjadi tiba-tiba dari bagian atas tebing tanpa tanda peringatan. Rekan korban berhasil menyelamatkan diri, sementara Aco tertimbun material tanah dan batu.

Para penambang di sekitar lokasi segera melakukan pencarian darurat menggunakan alat berat. Sekitar lima menit kemudian, korban berhasil ditemukan dan langsung dievakuasi ke fasilitas kesehatan terdekat. Namun, upaya penyelamatan tidak berhasil. Aco dinyatakan meninggal dunia pada pukul 22.30 WITA. Jenazah kemudian dibawa ke rumah duka di Desa Buranga.

Informasi yang dihimpun menyebutkan lubang tambang yang longsor berada di bawah pengelolaan seorang pendana berinisial Dona. Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari pihak yang bersangkutan.

Kasi Humas Polres Parigi Moutong membenarkan adanya peristiwa tersebut. Ia mengatakan lokasi kejadian telah diamankan, namun pemeriksaan menyeluruh masih menunggu kondisi keluarga korban.

Pos terkait:  Asisten III Hadiri Acara Puncak Festival Literasi Parigi Moutong 2022 secara Virtual

“Lokasi sudah kami amankan. Pemeriksaan lanjutan belum dapat dilakukan secara penuh karena keluarga masih berduka. Upaya lanjutan akan dilakukan setelah situasi memungkinkan,” ujarnya saat dihubungi, Jumat (13/2/2026).

Pihak kepolisian masih melakukan pendataan terkait kemungkinan korban lain. “Sementara tercatat satu korban meninggal dunia. Kami masih menunggu hasil pemeriksaan lanjutan di lapangan,” tambahnya.

Peristiwa ini kembali mengingatkan publik pada tragedi 24 Februari 2021, ketika longsor besar di kawasan tambang yang sama menimbun puluhan penambang dan merenggut tujuh nyawa. Meski tragedi tersebut sempat memicu perhatian luas, aktivitas pertambangan di kawasan ini disebut tetap berlangsung.

Tak jauh dari Buranga, sekitar 15 menit perjalanan, aktivitas tambang ilegal di Desa Tombi juga dilaporkan beroperasi secara terbuka menggunakan alat berat. Warga mengaku resah karena lokasi galian berada dekat permukiman dan sumber air bersih masyarakat.

“Getaran dan suara mesin terdengar sampai malam. Kami khawatir bukan hanya soal longsor, tapi juga dampak jangka panjang terhadap lingkungan,” ujar seorang warga yang meminta identitasnya dirahasiakan.

Desakan agar aparat segera melakukan penertiban semakin menguat. Warga menilai aktivitas tambang yang berada di zona rawan dan beririsan langsung dengan pemukiman berpotensi memicu bencana baru.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *