Parigi Moutong, LANDASAN.ID – Suasana haru menyelimuti kegiatan Silaturahmi Guru, Wali Murid, dan Siswa-Siswi Kelas VI Angkatan VI SDIT Al-Ihsan Parigi yang digelar di Auditorium Kantor Bupati Parigi Moutong, Sabtu (30/05/2026). Acara yang menjadi penanda berakhirnya masa belajar siswa di jenjang sekolah dasar itu berlangsung penuh kehangatan, rasa syukur, dan harapan.
Sebanyak 44 siswa yang terdiri dari 23 putra dan 21 putri secara simbolis dikembalikan kepada orang tua setelah enam tahun menempuh pendidikan di SDIT Al-Ihsan Parigi.
Ketua Panitia, Ustad Satar, A.Md., dalam laporannya menyampaikan bahwa kegiatan tersebut mengusung tema “Mewujudkan Generasi Qurani yang Berkarakter, Berprestasi, dan Berakhlak Mulia.” Ia mengapresiasi seluruh pihak yang telah mendukung terselenggaranya kegiatan tersebut, mulai dari wali murid, yayasan, sponsor, hingga para donatur.
“Terima kasih kepada seluruh pihak yang telah memberikan dukungan, baik tenaga, pikiran, materi maupun doa sehingga kegiatan ini dapat terlaksana dengan baik,” ujarnya.
Namun, lebih dari sekadar seremoni pelepasan, momen itu menjadi ruang perjumpaan emosional antara guru, siswa, dan orang tua yang selama enam tahun berjalan bersama dalam proses pendidikan.
Plt. Kepala Satuan Pendidikan SDIT Al-Ihsan Parigi, Ustad Agus Setiawan, Lc., mengaku bersyukur melihat perkembangan para siswa yang telah tumbuh bukan hanya secara akademik, tetapi juga dalam pemahaman agama dan pembentukan karakter.
Menurutnya, enam tahun bukanlah waktu yang singkat. Dalam rentang waktu tersebut, para siswa tidak hanya belajar membaca, menulis, dan berhitung, tetapi juga ditempa dengan nilai-nilai Islam, pembiasaan ibadah, hafalan Al-Qur’an, serta pendidikan akhlak.
“Enam tahun yang lalu orang tua menitipkan anak-anak mereka kepada kami. Hari ini kami melihat mereka tumbuh menjadi pribadi yang lebih baik, bertambah ilmu, bertambah hafalan Al-Qur’annya, dan semakin mengenal agamanya,” kata Agus.
Di hadapan para siswa, ia menitipkan empat pesan penting sebagai bekal melanjutkan pendidikan ke jenjang berikutnya, yakni menjaga shalat lima waktu, tetap dekat dengan Al-Qur’an, berbakti kepada kedua orang tua, serta menjaga akhlak dan adab di mana pun berada.
“Hari ini kami mengembalikan kalian kepada orang tua. Tetapi jangan pernah meninggalkan nilai-nilai yang telah kalian pelajari di sekolah ini,” pesannya.
Suasana semakin menyentuh ketika Ketua Yayasan Pendidikan Al-Ihsan Parigi, Ustad Muhammad Sadli Karim, S.Hi, menyampaikan sambutannya. Ia menegaskan bahwa acara tersebut bukanlah akhir dari perjalanan para siswa, melainkan awal dari babak baru kehidupan mereka.
“Hari ini bukan ucapan selamat tinggal. Ini adalah ucapan selamat melanjutkan perjalanan,” ujarnya.
Menurut Sadli, kehidupan merupakan rangkaian perjalanan panjang yang akan terus membawa seseorang dari satu tahap menuju tahap berikutnya. Karena itu, para siswa diminta untuk tidak cepat berpuas diri hanya karena telah menyelesaikan pendidikan dasar.
Ia mengingatkan pentingnya menjaga nilai-nilai yang telah ditanamkan selama belajar di SDIT Al-Ihsan Parigi, terutama kejujuran, tanggung jawab, kerja keras, serta akhlak mulia.
“Jangan hanya menjadi anak yang pintar, tetapi jadilah anak yang baik. Sebab dunia tidak hanya membutuhkan orang-orang cerdas, tetapi juga membutuhkan orang-orang yang berakhlak dan membawa manfaat bagi sesama,” tuturnya di barengi isak tangis haru.
Sadli juga menyampaikan penghargaan kepada para guru dan tenaga kependidikan yang selama ini mendedikasikan waktu, tenaga, dan pikiran untuk mendidik para siswa.
Ia meyakini setiap ilmu yang diajarkan dan setiap nilai yang ditanamkan akan menjadi amal jariyah yang terus mengalir pahalanya.
Kepada para orang tua, Sadli mengingatkan bahwa pendidikan tidak berhenti ketika anak-anak meninggalkan bangku sekolah dasar. Menurutnya, rumah tetap menjadi madrasah pertama dan orang tua adalah pendidik utama dalam kehidupan anak.
“Doa, perhatian, dan kehadiran orang tua adalah benteng yang tidak akan pernah tergantikan,” katanya.
Di penghujung acara, tak sedikit siswa, guru, maupun wali murid yang tampak menahan haru. Enam tahun kebersamaan yang dipenuhi canda, pelajaran, hafalan, nasihat, dan perjuangan kini berubah menjadi kenangan yang akan mereka bawa ke masa depan.
Bagi para guru, hari itu menjadi momen melepas anak-anak yang dahulu datang dengan langkah kecil dan penuh rasa ingin tahu, lalu tumbuh menjadi generasi muda yang siap melanjutkan perjalanan hidupnya.
Sementara bagi para siswa, perpisahan itu bukan sekadar meninggalkan ruang kelas dan seragam sekolah dasar. Mereka meninggalkan jejak masa kecil yang telah menempa karakter, membangun persahabatan, dan mengajarkan arti perjuangan.
Di tengah suasana haru tersebut, satu harapan terus dipanjatkan: agar 44 siswa Angkatan VI SDIT Al-Ihsan Parigi tumbuh menjadi generasi Qurani yang berilmu, berakhlak mulia, membanggakan orang tua, serta memberi manfaat bagi agama, bangsa, dan masyarakat.






