Parigi Moutong, LANDASAN.ID – Momentum Halal Bihalal di Desa Moutong Tengah, Jumat (03/04/2026), tidak sekadar menjadi ajang silaturahmi. Di tangan Bupati Parigi Moutong, H. Erwin Burase, pertemuan ini menjelma menjadi panggung konsolidasi besar antara pemerintah dan masyarakat untuk mendorong percepatan pembangunan daerah.
Di bawah nuansa hangat bulan Syawal 1447 Hijriah, Bupati Erwin tampil dengan pesan yang tidak hanya menyentuh sisi spiritual, tetapi juga sarat arah pembangunan. Ia menegaskan bahwa Halal Bihalal harus dimaknai sebagai titik awal membangun kembali kepercayaan antara rakyat dan pemerintah.
“Ini bukan sekadar tradisi. Ini adalah momentum membersihkan hati, memperbaiki hubungan, dan membangun kepercayaan. Dari sinilah kekuatan kolektif lahir untuk membawa Parigi Moutong lebih maju,” tegasnya.
Namun, pesan Bupati tidak berhenti pada nilai-nilai kebersamaan. Ia langsung mengaitkannya dengan agenda konkret pembangunan. Salah satu yang disorot adalah pembangunan Jembatan Garuda Kodam XXIII/Palakawira yang digadang-gadang menjadi penggerak baru ekonomi wilayah.
Jembatan tersebut diproyeksikan menjadi infrastruktur strategis yang akan memangkas waktu tempuh antar wilayah, mempercepat distribusi hasil pertanian dan perikanan, serta membuka akses ekonomi desa yang selama ini terisolasi.
Lebih jauh, Bupati Erwin juga melontarkan gagasan progresif yang langsung menyentuh sektor ekonomi rakyat. Ia menantang setiap desa untuk menyiapkan minimal dua hektar lahan produktif khusus pengembangan durian.
Langkah ini bukan tanpa alasan. Menurutnya, durian memiliki nilai ekonomi tinggi dan pasar yang terus berkembang, baik di tingkat nasional maupun internasional. Ia ingin Parigi Moutong tidak sekadar menjadi daerah penghasil, tetapi naik kelas sebagai sentra produksi durian yang kompetitif.
“Saya ingin masyarakat bersiap dari sekarang. Kita siapkan lahannya, kita kelola dengan serius. Ke depan, kita harus menjadi pemain utama, bukan sekadar penonton,” ujarnya disambut antusias warga.
Kehadiran unsur DPRD, Forkopimcam, kepala desa, hingga tokoh lintas agama dalam kegiatan ini semakin memperkuat pesan bahwa pembangunan Parigi Moutong tidak bisa berjalan sendiri. Dibutuhkan sinergi dan kolaborasi semua pihak.
Halal Bihalal kali ini pun menjadi lebih dari sekadar tradisi tahunan. Ia berubah menjadi titik temu antara nilai spiritual, kekuatan sosial, dan arah kebijakan strategis—sebuah fondasi penting menuju percepatan kesejahteraan masyarakat Parigi Moutong.







