Daerah  

BI Gandeng TNI AL, Ekspedisi Rupiah Berdaulat 2026 Berlayar ke Lima Pulau Terluar Sulteng

Perwakilan Kepala Bank Indonesia Provinsi Sulawesi Tengah, Irfan Sukarna, Selaku Kepala Departemen Pengelolaan Uang, saat Melakukan Doorstop dengan Media dalam Kegiatan Ekspedisi Rupiah Berdaulat 2026 Sulteng di Pelabuhan Kelas III Parigi. /Foto: FB

Parigi Moutong, LANDASAN.ID – Bank Indonesia (BI) bersama TNI Angkatan Laut (AL) kembali menggelar Ekspedisi Rupiah Berdaulat (ERB) 2026 dengan menggunakan KRI Lumba-Lumba untuk menjangkau lima wilayah kepulauan di Sulawesi Tengah. Misi tersebut menjadi bagian dari upaya menjaga kedaulatan rupiah sekaligus memastikan masyarakat di daerah terdepan, terluar, dan terpencil memperoleh akses terhadap uang layak edar.

Ekspedisi dilepas dari Pelabuhan Kelas III Parigi, Selasa (07/07/2026), dengan membawa uang layak edar senilai Rp12,24 miliar, meningkat sekitar 16 persen dibandingkan pelaksanaan tahun lalu.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sulawesi Tengah, M. Irfan Sukarna, mengatakan distribusi uang rupiah ke wilayah kepulauan tidak dapat dilakukan sendiri oleh Bank Indonesia sehingga membutuhkan dukungan armada TNI AL.

“Bank Indonesia menyediakan mata uang rupiah ke seluruh wilayah Indonesia, termasuk daerah-daerah terpencil. Tapi kami tidak punya fasilitas, sehingga bekerja sama dengan TNI AL,” kata Irfan usai pelepasan ekspedisi.

Ia menjelaskan, sinergi Bank Indonesia dan TNI AL telah berlangsung sejak 2018 sebagai bentuk komitmen menghadirkan layanan kas sekaligus menjaga kedaulatan negara melalui distribusi rupiah hingga ke wilayah terdepan, terluar, dan terpencil.

Dalam pelayaran tahun ini, tim Ekspedisi Rupiah Berdaulat akan melayani masyarakat di Wakai, Walea Kepulauan, Salakan, Banggai, dan Bokan Kepulauan.

Tak hanya membuka layanan penukaran uang layak edar, rombongan juga akan menggelar edukasi Cinta, Bangga, dan Paham Rupiah serta memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat di setiap wilayah yang disinggahi.

Menurut Irfan, pelaksanaan ERB 2026 dirancang lebih variatif dibandingkan tahun sebelumnya karena tidak hanya berfokus pada layanan kas, tetapi juga memperluas kegiatan edukasi dan sosial.

Ia menegaskan, kebutuhan uang tunai di wilayah kepulauan dan daerah terpencil masih sangat tinggi meskipun transaksi digital terus berkembang.

“Karena masyarakat di berbagai daerah sangat mengharapkan uang rupiah yang lusuh bisa ditukar dengan uang baru. Jadi tidak hanya di kota besar, di wilayah terpencil juga membutuhkan,” ujarnya.

Sebanyak 15 pegawai Bank Indonesia mengikuti pelayaran tersebut. Mereka berasal dari Kantor Pusat Bank Indonesia, Kantor Perwakilan BI Sulawesi Tengah, serta perwakilan BI Kalimantan Barat, Maluku Utara, Papua Barat, Bali, dan Bengkulu.

Irfan menambahkan, Bank Indonesia telah memiliki Kas Titipan di Kabupaten Tolitoli, Poso, Morowali, Banggai, serta Pasangkayu, Sulawesi Barat. Namun, untuk menjangkau pulau-pulau terluar, dukungan armada TNI AL tetap menjadi kunci agar layanan penukaran uang dapat menjangkau seluruh lapisan masyarakat.

“Kalau di darat, kami bekerja sama dengan perbankan yang ditunjuk sebagai Kas Titipan. Tapi untuk pulau-pulau terluar, kami bekerja sama dengan TNI AL agar layanan penukaran uang dapat menjangkau seluruh masyarakat. Jadi laut dapat, darat juga dapat,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *