Sunarti: Pendidikan Inklusif adalah Hak Semua Anak, Tanpa Terkecuali

Bimbingan Teknis (Bimtek) Pendidikan Inklusif bagi Guru Pendamping Khusus (GPK) jenjang Sekolah Dasar dan Sekolah Menengah Pertama, yang berlangsung di Auditorium Kantor Bupati, Selasa (29/7/2025). Foto: Hasan.

Parigi Moutong, Landasan.id Pendidikan inklusif bukan sekadar wacana, melainkan kebutuhan nyata yang harus diwujudkan agar setiap anak, baik yang normal maupun berkebutuhan khusus, memiliki kesempatan yang sama untuk belajar dan berkembang.

Hal itu ditegaskan Plt Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Parigi Moutong, Sunarti, saat membuka kegiatan Bimbingan Teknis (Bimtek) Pendidikan Inklusif bagi Guru Pendamping Khusus (GPK) jenjang Sekolah Dasar dan Sekolah Menengah Pertama, yang berlangsung di Auditorium Kantor Bupati, Selasa (29/7/2025).

Dalam sambutannya, Sunarti menekankan bahwa semua insan pendidikan harus bersatu padu untuk menghadirkan sistem pendidikan yang tidak diskriminatif dan berkelanjutan. “Setiap anak mempunyai keahliannya masing-masing. Mau dia normal ataupun berkebutuhan khusus, semuanya berhak merasakan pendidikan yang sama,” ucapnya di hadapan peserta.

Masih Ada Anak Berkebutuhan Khusus di Daerah

Sunarti mengungkapkan, di beberapa wilayah Kabupaten Parigi Moutong masih banyak anak berkebutuhan khusus yang perlu perhatian serius. Menurutnya, keberadaan mereka menegaskan bahwa pendidikan inklusif harus segera diimplementasikan, bukan hanya sebatas konsep.

Ia mencontohkan seorang anak tunanetra di wilayah Moutong yang justru mampu membuktikan dirinya melalui keterampilan musik. “Dia pandai memainkan alat piano. Setiap ada hajatan, dialah yang dipanggil untuk tampil. Padahal kita yang normal belum tentu bisa memainkannya,” kisahnya.

Contoh nyata tersebut, lanjut Sunarti, menjadi bukti bahwa keterbatasan bukanlah penghalang untuk berkarya. Justru anak-anak berkebutuhan khusus memiliki kelebihan yang sering kali tidak dimiliki oleh anak-anak normal.

Peran Strategis GPK

Melihat kondisi itu, Sunarti menilai kehadiran Guru Pendamping Khusus (GPK) sangat penting. Mereka menjadi garda terdepan dalam mendampingi peserta didik berkebutuhan khusus agar tetap bisa mengikuti proses pembelajaran dengan baik.

Ia menegaskan, sinergi antara pemerintah, sekolah, dan GPK merupakan kunci keberhasilan pendidikan inklusif. “Tanpa GPK, sulit rasanya mewujudkan kelas yang benar-benar ramah bagi semua anak. Karenanya, kami mendorong agar para pendamping terus meningkatkan kompetensi, kesabaran, dan kepeduliannya,” jelasnya.

Ajakan untuk Menghargai Setiap Anak

Dalam kesempatan tersebut, Sunarti juga mengajak seluruh tenaga pendidik agar tidak membeda-bedakan peserta didik, apa pun kondisinya. “Semua anak sudah diberikan kelebihan oleh Allah SWT. Jangan sampai justru kita yang menghambat mereka menunjukkan kelebihan itu. Tugas kita adalah memberi ruang, bukan membatasi,” tegasnya.

Menurutnya, dengan memberi ruang berekspresi, anak-anak berkebutuhan khusus akan mampu menunjukkan potensi terbaiknya, sekaligus membuktikan bahwa mereka layak mendapatkan tempat yang sama di dunia pendidikan maupun di tengah masyarakat.

Harapan ke Depan

Di akhir sambutannya, Sunarti menegaskan kembali komitmen Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Parigi Moutong untuk terus memperkuat program pendidikan inklusif. Ia berharap kegiatan Bimtek ini menjadi momentum bagi para GPK untuk memperluas pemahaman sekaligus membangun jejaring kolaborasi demi terwujudnya pendidikan yang benar-benar adil dan merata.

“Kita tidak boleh membiarkan ada satu pun anak yang tertinggal dari dunia pendidikan. Mari bergandeng tangan, bersinergi, dan berkomitmen bersama agar Parigi Moutong benar-benar menjadi daerah yang ramah bagi semua anak,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *