Ekspor Raya Durian Sulteng Tembus Rp42,5 Miliar, Bidik Pasar Tiongkok hingga Triliunan Rupiah

Kegiatan Ekspor Raya Durian Sulteng Ke Tiongkok. /Foto: IST

Palu, LANDASAN.ID – Balai Karantina Indonesia (Barantin) mencatat nilai pasar durian asal Sulawesi Tengah (Sulteng) dalam kegiatan ekspor raya ke Tiongkok mencapai Rp42,5 miliar. Momentum ini menjadi sinyal kuat bahwa komoditas durian mulai menjelma sebagai kekuatan ekonomi baru daerah.

Kepala Barantin, Sahat M. Panggabean, menegaskan komitmen pemerintah pusat untuk mendorong Sulteng menjadi salah satu eksportir utama durian nasional.

“Kami ingin Sulteng menjadi daerah eksportir durian nasional. Konsistensi produksi dan kualitas harus terus dijaga dan dikembangkan,” ujarnya dalam kegiatan ekspor raya di Palu, Kamis.

Dalam ekspor tersebut, volume pengiriman mencapai 459 ton atau setara 17 kontainer. Secara kumulatif, sejak Januari hingga April 2026, Sulteng telah mengekspor durian beku ke Tiongkok sebanyak 151 kontainer dengan nilai mencapai Rp377,5 miliar.

Sahat menilai, durian kini bukan sekadar komoditas musiman, melainkan telah bertransformasi menjadi sumber pertumbuhan ekonomi baru yang menjanjikan.

“Durian menjadi sumber ekonomi baru. Pemerintah pusat siap mendukung penuh kelancaran ekspor hortikultura,” tegasnya.

Sebagai langkah konkret, Barantin akan membentuk satuan tugas (satgas) di daerah untuk mengawal seluruh proses ekspor, mulai dari hulu hingga hilir. Langkah ini juga untuk mengantisipasi potensi gangguan yang dapat menghambat distribusi ekspor.

Selain itu, pemerintah daerah diminta aktif mendampingi petani, mulai dari penerapan budidaya yang baik, hingga percepatan sertifikasi kebun durian agar memenuhi standar ekspor.

Untuk tahun 2026, target ekspor durian Montong asal Sulteng dipatok mencapai 8.100 ton dengan nilai sekitar Rp750 miliar.

Peluang pasar pun terbuka sangat lebar. Permintaan durian di Tiongkok tercatat mencapai 8 miliar dolar AS atau setara Rp137 triliun per tahun. Indonesia menargetkan mampu merebut 5 hingga 10 persen pangsa pasar tersebut, dengan potensi devisa mencapai Rp6,4 hingga Rp12,8 triliun per tahun.

Di sisi produksi, Sulteng memiliki modal kuat. Berdasarkan data tahun 2025, jumlah pohon durian mencapai sekitar 3,7 juta pohon, dengan 1,2 juta pohon telah produktif dan 2,2 juta lainnya masih dalam tahap pertumbuhan.

Total potensi produksi diperkirakan mencapai 95.140 ton per tahun, yang tersebar di seluruh kabupaten/kota. Sentra utama durian berada di Kabupaten Poso dan Parigi Moutong.

Dengan potensi besar tersebut, Sulteng dinilai berada di jalur strategis untuk menjadi salah satu pemain utama dalam rantai pasok durian global, khususnya untuk pasar Tiongkok yang terus tumbuh pesat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *