Daerah  

Petani Durian Parigi Moutong Keluhkan Permainan Sortiran Hingga Penyakit Bangkalan

Tanya Jawab Petani Durian yang di Wakili Oleh Fadlin, Dalam kegiatan Optimalisasi Kualitas Ekspor Komoditas Durian Parigi Moutong Melalui Pendampingan Karantina yang Berlangsung di PT Sentra Pangan Sejahtera, Desa Avolua, Kecamatan Parigi Utara, Kamis (28/5/2026). /Foto: FB

Parigi Moutong, LANDASAN.ID – Keresahan petani durian di Kabupaten Parigi Moutong kian memuncak. Selain dihantui serangan penyakit misterius yang dikenal dengan sebutan “bangkalan”, para petani juga mengaku kerap dipermainkan oleh pembeli saat menjual hasil panen mereka.

Keluhan itu disampaikan langsung petani durian asal Parigi Moutong, Fadlin, dalam forum dialog bersama pemerintah daerah, Badan Karantina Indonesia, Kadin Parigi Moutong, dan Asosiasi Pekebun Durian Indonesia (Apdurin) di packing house PT Sentra Pangan Sejahtera, Desa Avolua, Kecamatan Parigi Utara, Kamis (28/05/2026).

Menurut Fadlin, praktik permainan sortiran oleh oknum pembeli sangat merugikan petani. Ia menilai, penentuan kualitas buah kerap dilakukan sepihak untuk menekan harga jual di tingkat petani.

“Kami sering diakal-akali pembeli. Kadang dibilang ini tipe C, bukan tipe A, bahkan macam-macam alasan supaya harga turun,” ungkapnya.

Ia mengatakan, posisi petani kerap lemah karena tidak memiliki standar penilaian kualitas yang jelas saat transaksi berlangsung. Kondisi itu membuat petani sulit menolak ketika harga diturunkan dengan alasan kualitas buah tidak memenuhi spesifikasi.

Menanggapi keluhan tersebut, Ketua Kadin Parigi Moutong, Faradiba Zaenong, mengakui persoalan kualitas buah memang menjadi tantangan serius dalam rantai perdagangan durian.

Menurut Faradiba, buah yang dipanen di bawah tingkat kematangan ideal berpotensi masuk kategori grade rendah di packing house dan menyebabkan kerugian bagi pelaku usaha.

“Kalau dibeli di lapangan di bawah 70 persen tingkat kematangan, sudah pasti di ruang produksi masuk grade C. Packing house pasti rugi,” kata Faradiba.

Ia meminta petani tidak terburu-buru memanen buah hanya demi mengejar keuntungan cepat. Sebab, buah yang belum matang sempurna dapat merusak kepercayaan pasar terhadap kualitas durian asal Parigi Moutong.

“Petani harus menahan diri. Jangan cepat petik karena mau cepat dapat hasil. Kalau buahnya muda terus rusak, nama petaninya juga jadi buruk,” ujarnya.

Meski demikian, Faradiba menegaskan pihaknya membuka ruang pengaduan bagi petani yang merasa dirugikan oleh praktik sortiran tidak wajar.

“Kalau ada yang datang menyampaikan sortiran yang tidak wajar, hubungi saya. Nanti saya bantu mediasi. Saya yakin gudang profesional tidak bekerja seperti itu,” tegasnya.

Di sisi lain, keresahan petani juga diperparah dengan merebaknya penyakit “bangkalan” yang disebut telah menghantui kebun durian warga selama sekitar empat tahun terakhir hingga menyebabkan penurunan produksi dan kerugian ekonomi bagi petani.

“Ini penyakit yang luar biasa. Kami petani durian sudah puluhan tahun berkebun, tapi belum pernah menemukan penyakit seperti ini,” ujar fadlin.

Ia menilai kondisi tersebut sudah layak dikategorikan sebagai bencana pertanian karena dampaknya terus meluas dan belum ditemukan penanganan yang efektif.

Bupati Parigi Moutong, H. Erwin Burase, turut menyoroti persoalan tersebut. Dalam sambutannya, ia berharap kehadiran Kepala Badan Karantina Indonesia dapat membawa solusi konkret terhadap berbagai persoalan yang dihadapi petani durian, khususnya penyakit bangkalan.

Menurutnya, pemerintah daerah bersama kelompok tani sebenarnya telah berulang kali bekerja sama dengan sejumlah perguruan tinggi dan lembaga penelitian guna mencari solusi atas penyakit tersebut. Namun hingga kini, formula penanganan yang tepat masih belum ditemukan.

Erwin berharap forum bersama pemerintah, karantina, pelaku usaha, dan petani tersebut dapat menghasilkan langkah nyata dalam penanganan penyakit bangkalan yang semakin meresahkan petani durian di Parigi Moutong.

“Kami berharap melalui kesempatan ini, kita dapat memperoleh arahan, pendampingan, serta solusi dari barantin dalam mengatasi penyakit bangkalan yang menyerang tanaman durian di wilayah Kabupaten Parigi Moutong,” tandasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *