Parigi Moutong, LANDASAN.ID – Pagi yang semula berjalan biasa di Desa Siniu, Kecamatan Siniu, Kabupaten Parigi Moutong, berubah menjadi duka mendalam, Sabtu (14/2/2026). Seorang remaja perempuan berinisial KA (17) ditemukan tak bernyawa di kamar rumah orang tuanya, dalam kondisi tergantung dengan tali nilon berwarna hitam yang melilit di lehernya.
Peristiwa itu pertama kali terungkap sekitar pukul 08.00 Wita, saat warga melaporkan dugaan bunuh diri kepada aparat setempat. Tak lama berselang, personel Polsek Ampibabo bersama Kanit Reskrim tiba di lokasi untuk melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP).
Sebelum tragedi itu terkuak, suasana rumah korban masih tampak seperti pagi biasa. Sekitar pukul 07.00 Wita, ibu korban, YD (42), meminta anaknya menanak nasi sebelum ia berangkat menjual ikan di lapak yang berjarak sekitar 300 meter dari rumah.
Namun sekitar pukul 07.45 Wita, nenek korban yang melintas di depan rumah mencium bau hangus dari arah dapur. Ia mendapati kompor masih menyala dan nasi telah gosong. Korban tak terlihat di ruang tengah maupun dapur.
Kekhawatiran berubah menjadi kepanikan saat ibu korban kembali ke rumah dan membuka pintu kamar anaknya. Di dalam ruangan itulah, ia mendapati putrinya sudah tergantung pada balok rangka rumah.
Teriakan histeris sang ibu memecah kesunyian pagi. Warga berhamburan datang. Seorang nelayan, PL (55), segera memotong tali menggunakan pisau. Korban sempat dilarikan ke Puskesmas Kecamatan Siniu dengan harapan masih ada keajaiban. Namun tenaga medis menyatakan nyawa remaja tersebut tidak tertolong.
Sekitar pukul 08.05 Wita, aparat kepolisian tiba di lokasi dan langsung memasang garis polisi. Tali nilon yang digunakan korban diamankan sebagai barang bukti. Sejumlah saksi, termasuk keluarga dan warga sekitar, dimintai keterangan untuk kepentingan penyelidikan.
Kapolsek Ampibabo, IPTU Safrin H. Abdullah, menegaskan pihaknya bergerak cepat begitu menerima laporan.
“Begitu menerima informasi dari masyarakat, anggota langsung menuju TKP untuk melakukan pengamanan dan olah tempat kejadian perkara. Kami juga telah meminta keterangan para saksi serta mengamankan barang bukti,” tegasnya.
Polisi juga sempat menyarankan agar dilakukan visum maupun otopsi guna memastikan penyebab pasti kematian. Namun keluarga korban menyatakan penolakan secara tertulis dan menandatangani berita acara resmi.
“Kami menghormati keputusan keluarga. Meski demikian, penyelidikan tetap kami lakukan secara profesional untuk memastikan tidak ada unsur pidana lain dalam peristiwa ini,” lanjut IPTU Safrin.
Kapolsek mengimbau masyarakat untuk tidak berspekulasi maupun menyebarkan informasi yang belum terverifikasi.
“Kami meminta warga tetap tenang dan tidak terprovokasi isu-isu yang belum tentu benar. Jika ada informasi tambahan, segera laporkan kepada pihak kepolisian,” ujarnya.
Polisi juga akan mengintensifkan peran Bhabinkamtibmas guna melakukan pendekatan persuasif kepada keluarga korban dan masyarakat sekitar demi menjaga situasi kamtibmas tetap kondusif.
Tragedi ini meninggalkan luka mendalam bagi keluarga dan warga Desa Siniu. Di balik garis polisi dan kerumunan warga yang terdiam, peristiwa ini menjadi pengingat sunyi tentang pentingnya kepedulian terhadap kondisi psikologis remaja, ruang komunikasi dalam keluarga, serta perhatian lingkungan sekitar.
Jika Anda atau orang terdekat mengalami tekanan psikologis berat atau pikiran untuk menyakiti diri sendiri, segera cari bantuan dari tenaga profesional, tokoh masyarakat, atau layanan kesehatan terdekat. Anda tidak sendiri, dan bantuan selalu ada.












