DPRD  

Minim Pendampingan, Petani Durian Parigi Moutong Hadapi Hama Bangkalan Sendiri

Anggota Panja Packing House DPRD Parigi Moutong, I Ketut Mardika, doroti Serangan Hama Bangkalan Pada Rapat Parimpurna. /Foto : IST

Parigi Moutong, LANDASAN.ID Serangan hama bangkalan masih menjadi ancaman serius bagi petani durian di Kabupaten Parigi Moutong (Parimo), Sulawesi Tengah. Kondisi ini kian memprihatinkan karena minimnya pendampingan teknis dari pemerintah daerah, sehingga petani harus menghadapi persoalan tersebut secara mandiri.

Anggota Panitia Kerja (Panja) Packing House DPRD Parimo, I Ketut Mardika, mengungkapkan bahwa selama ini pendampingan yang diterima petani justru lebih banyak datang dari pihak penjual obat pertanian atau formulator.

“Yang terjadi di lapangan, justru penjual obat yang terus mendampingi petani dengan menawarkan berbagai macam produk, meskipun kualitas dan efektivitasnya belum tentu terjamin,” ujar Ketut.

Menurutnya, kondisi tersebut menunjukkan lemahnya kehadiran pemerintah dalam memberikan bimbingan teknis yang tepat kepada petani, khususnya dalam menangani hama bangkalan yang terus berulang.

Padahal, lanjut dia, petani tidak menuntut hal yang rumit. Mereka hanya membutuhkan pendampingan yang berkelanjutan agar penanganan hama dapat dilakukan secara tepat, efektif, dan tidak menimbulkan kerugian berkepanjangan.

“Yang diharapkan petani sebenarnya sederhana, yakni kehadiran pemerintah untuk mendampingi dan memberikan solusi nyata agar hama ini bisa segera diatasi,” tegasnya.

Di sisi lain, harga durian di Parigi Moutong dalam beberapa tahun terakhir mengalami kenaikan signifikan. Dari sebelumnya hanya berkisar Rp6 ribu hingga Rp7 ribu per kilogram, kini melonjak hingga sekitar Rp35 ribu per kilogram.

Pos terkait:  DPRD Parigi Moutong Tunda Pembentukan Pansus Wilayah Pertambangan Rakyat untuk Kajian Lebih Mendalam

Namun, tingginya harga tersebut belum mampu meningkatkan kesejahteraan petani secara optimal. Pasalnya, sebagian besar hasil panen justru mengalami kerusakan akibat serangan hama bangkalan.

Ketut bahkan membagikan pengalamannya saat panen. Dari sekitar 400 kilogram durian yang dihasilkan, banyak di antaranya rusak dan tidak layak jual.

“Bayangkan, dari sekitar 400 kilogram hasil panen, sebagian besar rusak karena bangkalan. Ini tentu sangat merugikan petani,” jelasnya.

Ia pun mendorong pemerintah daerah melalui dinas terkait untuk segera turun tangan melakukan penelitian menyeluruh, mulai dari kondisi tanah, kandungan unsur hara, hingga faktor utama penyebab serangan hama.

Selain itu, optimalisasi peran Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) dinilai sangat penting dalam memberikan edukasi serta pendampingan langsung kepada petani.

“Kami berharap pemerintah lebih serius hadir di tengah petani durian. Masalah penyakit tanaman ini harus segera ditangani, agar petani tidak terus mengalami kerugian,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *